Unik, Toleransi Adat Ini Malah Luput

Unik, Toleransi Adat Ini Malah Luput

suarapinggiran.online_ Adat sebagai sebuah nilai yang agung dari para tetua, telah menitipkan kearifan tidak saja dalam satu garis hubungan antar manusia dengan manusia lain. Keharmonisan didalamnya juga dimandatkan bagi habungan manusia dengan alam lingkungannya dalam ikatan yang kuat dan penuh manfaat.

Kedua garis hubungan yang tertuju pada kesaksian bagi Keesaan Tuhan itu telah mengantarkan manusia pada tingkat kesadaran dan pengetahuan mendalam tentang pentingnya menjaga kearifan bagi kelangsungan hidup generasi selajutnya.

Salah satu bentuk keaifan budaya tersebut juga terlihat dalam Ritual Adat Mosehe bagi masyarakat suku asli Konawe, yakni Suku Tolaki. Dari generasi ke generasi, ritual ini tetap terjaga praktek dan nilai nilainya. Dalam hubungannya dengan alam lingkungan sekitar, Mosehe Wonua adalah ritual yang dilakukan masyarakat Tolaki ketika negeri yang didiami mengalami becana yang dialami oleh banyak orang seperti gagal panen, atau terjadinya penyakit mewabah. Diyakini oleh masyarakt Tolaki, kejadian atau hal hal ini terjadi akibat pelanggaran manusia terhadap Penciptnya.

Uniknya, di Kabupaten Konawe sebagai daerah asli Suku Tolaki, adat mosehe ini juga diyakini oleh suku bangsa Bali yang notabene adalah suku pendatang di wilayah ini. Dalam ritual adat “Mapaktoyo” atau pensucian air sebelum melakukan aktifitas penanaman padi, Ritual Mosehe dipilih oleh sebagian penduduk suku Bali ini untuk menutup ritual secara keseluruhan.

“kami sangat menyakini ritual mosehe ini, karena kami percaya bahwa tujuan kita adalah sama yaitu Tuhan yang Maha Esa, kami melakukan ini karena kami berada di tanah Konawe tanah suku Tolaki” ujar I Nengah Sukada salah satu pemangku adat Suku Bali di sela aktivitas ritual mereka di Kabupaten Konawe.

Ritual Mosehe Suku Tolaki bersama Suku Bali

Bentuk toleransi adat istiadat dengan suku Tolaki seperti ini telah lama diinisiasi oleh sebagian penduduk transmigrasi Suku Bali yang tersebar di Kabupaten yang dikenal sebagai daerah Lumbung beras ini. Mereka meyakini kegagalan panen sangat dipengaruhi oleh aktifitas pertanian mereka yang kurang memperhatikan ritual adat masyarakat asli setempat.

Sayangnya, inisiatif ini kurang mendapat perhatian dari pemerintah Kabupaten. Padahal, momentum toleransi adat seperti ini dapat menjadi kebanggaan tersendiri dan mampu menarik perhatian wisatawan jika menjadi ritual besar besaran di setiap tahunnya dan secara resmi dilakukan oleh pemerintah dengan masyarakat adat Suku Tolaki dan Suku Bali pada tempat yang telah ditentukan secara bersama-sama.

“harapan kami ritual Mapaktoyo dan Mosehe ini dilakukan secara besar besaran di bendungan yang ada di Ameroro sana. Kami bisa berkumpul dengan lebih banyak orang lagi, bersama sama melakukan Ritual Mapaktoyo dan ditutup dengan Ritual Mosehe sebagaimana ritual Suku Tolaki. Kami sebenarnya berharap perhatian pemerintah” ujarnya lagi. (*jm)

Bagikan :

Jurnalis SUPI

Pangga Rahmad, Pimpinan Redaksi Suarapinggiran

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *