Supirah, Kisah Nenek Usia 94 Tahun, Merawat Anaknya Penderita Gangguan Jiwa dalam Kemiskinan

Supirah, Kisah Nenek Usia 94 Tahun, Merawat Anaknya Penderita Gangguan Jiwa dalam Kemiskinan

Rumahku adalah surgaku, begitulah seharusnya Sebuah rumah yang ditinggali oleh seseorang. Tidak harus megah dan mewah tetapi cukup untuk berteduh dari panas dan hujan, serta memiliki kelayakan dan bersih. Sayangnya, itu tidak terjadi di rumah Supirah, nenek berumur 94 tahun yang terlihat telah bungkuk.

Rumah yang berjarak sepuluh meter dari jalan itu tidak terawat. Dedaunan kering berserakan di halaman jarang tak sering dibersihkan. Rumah yang sudah renta, persis seperti Supirah, sangat jauh dari kelayakan.

Dindingnya yang terbuat dari papan sebagian besar telah lapuk, hingga mudah jatuh karena rapuh. Ketika Pengurus partai Prima Konawe datang berkunjung, Sabtu, 12 Februari 2022 lalu, di rumah ini tidak ada tempat duduk yang layak.

Lantainya yang terbuat dari semen kasar sudah banyak yang retak, tidak ada karpet atau lapisan plastik yang dipakai untuk menutup lantai. Tepatnya di Jalan poros Sendang Mulya Sari RT/RW:02/04, Kelurahan Inolobunggadue, Kecamatan Unaaha, Kabupaten Konawe rumah ini berada dan tak terlihat perubahan. Sebab sembilan tahun lalu, ketika Jurnalis Suara Pinggiran ini pertama kali berkunjung, kondisinya telah sangat memprihatinkan.

Nenek Supirah hanya beraktifitas terbatas, untuk sekadar membersihkan ruang makan yang sempit dan berantakan saja dia tidak sanggup. Dia hanya bisa memasak seadanya, mencuci piring satu persatu ketika akan digunakan.

Dapurnya yang tanpa dinding kerap diganggu oleh ayam-ayam dan debu yang berterbangan mengotori perabot dan juga bahan makanan. Jika seseorang datang bertamu, ia akan menyeret kursi plastik beserta tubuhnya yang lemah untuk membuka pintu dapur rumahnya. Tubuh yang kurus dan sudah bungkuk tak kuat lagi berdiri lama. Sedangkan suara salam tamu dari depan rumah, tak akan mendapat balasan lantaran nenek Supirah sudah tak lagi memiliki pendengaran yang normal.

Nenek Supirah tidak sendirian di rumah itu. Anaknya bernama Pandi (40) menemaninya meski tak pernah membantunya. Pandi yang sejak lulus SMA kala itu tidak mampu lagi mengurus diri sendiri. Ia mengalami gangguan jiwa. Sehari-sehari ia hanya bisa mengandalkan Ibunya yang telah renta.

Semua kebutuhan diri termasuk makan dan buang air, Supirah harus bersusah payah membantu anaknya yang telah tak mampu pula berdiri. Pandi hanya bisa duduk lalu kemudian berbaring.

Sesekali, Supirah dibantu cucu laki-laki nya yang masih remaja. Namanya Firman. Setelah tamat sekolah di bangku SMA, ia tak lagi mampu melanjutkan pendidikan. Keterbatasan ekonomi telah jelas menjadi alasannya selain bahwa ia harus pula merawat paman dan neneknya sendiri.

“ibu sudah meninggal” Jawabnya datar. Tepat di tahun 2012, saat Firman masih duduk di bangku kelas empat Sekolah Dasar, ibunya yang mengalami sakit akhirnya menghadap Ilahi. Hal itu terjadi ditengah kenyataan bahwa ayah Firman telah sejak bertahun lamanya tak pernah lagi kembali hingga kini.

Keseharian, firman kerap dijemput oleh kawan kerjanya menuju bengkel Duco mobil tempat mereka selama ini menjual jasa tenaga. Diakuinya, pekerjaan ini dilakoninya agar dapat membantu neneknya yang untuk kebutuhan makan saja hanya menunggu kebaikan hati para penjual sayur keliling yang lewat.

“Pedagang sayur yang kenal dan iba padanya kerap singgah untuk membagikan sayur yang mereka bawa” ucap salah satu warga yang berkenan menjadi penerjemah bahasa Jawa saat kami berkomunikasi dengan nenek Supirah sebelumnya.

Sebagimana dalam pandangan Pengurus PRIMA Konawe, kemiskinan tidak harus dipandang sebagai takdir yang tanpa sebab atau kausalitas. Kesenjangan ekonomi seperti ini menurut mereka adalah bentuk kemiskinan struktural, disebabkan oleh struktur sosial politik yang tidak berpihak bahkan meminggirkan.

Dengan demikian, bantuan sembako atau apapun yang sesaat meringankan beban mereka yang lemah terkadang tidak menyentuh akar permasalahan. Ironisnya, justru hanya dianggap sebagai bentuk sikap untuk beramal kepada sesama, tanpa memandang kearah penghargaan dan pembelaan terhadap hak-hak mereka yang telah dilanggar sebagai manusia biasa.

“ini bukanlah sikap amal, ini adalah bentuk tindakan keadilan, penghargaan atas hak asasi manusia, atas hak kehidupan yang layak terlebih bagi mereka yang lemah. Nenek Supirah secara konstitusional berhak atas kehidupan yang layak, bukan hanya sebungkus dua bungkus indomie” Terang Jumran, Ketua PRIMA Konawe kepada media ini.

Saat ini, Hal yang paling utama bagi nenek Supirah adalah perbaikan ruang dapur yang layak, kamar mandi dan sanitasi. Untuk menyalurkan bantuan secara langsung, bisa datang di alamat yang tertera atau menghubungi kontak (085234264934) jika kesulitan menemukan alamat tersebut. (*)

Laporan : Kartika

Bagikan :

Jurnalis SUPI

Pangga Rahmad, Pimpinan Redaksi Suarapinggiran

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *