Stigma ‘Single Parent’

Stigma ‘Single Parent’

Oleh: Kartika Nurazmi

Mawar yang tidak harum lagi. Kalimat itu mungkin saat ini cocok dipakai untuk seorang perempuan yang memiliki predikat janda, cantik, berbakat dan kaya tapi kemudian harus jatuh di tempat yang membuatnya berbau tidak sedap.

Stigma tentang janda di masyarakat kita mengatakan bahwa seorang janda pasti memiliki sifat genit, centil, pantas digoda atau bahkan dilecehkan.

Itulah yang sedang terjadi saat ini. Seorang artis berinisial G sedang dijadikan bahan perbincangan semua orang karena beredar video dirinya yang tidak pantas.

Dia seorang janda yang terkenal dengan kecantikannya. Maka ketika video dirinya tersebar, orang lain tidak memikirkan bagaimana hal itu bisa terjadi.

Tentu kita tidak membenarkan penyebaran video tersebut, hal ini juga dimuat dalam undang-undang ITE bahwa penyebaran konten tidak senonoh akan dikenakan sanksi.

Namun, tetap saja, hal itu dilakukan oleh seseorang yang tidak bertanggung jawab dan masyarakat beramai-ramai ikut menyebarkan.

Mereka lupa, di balik sosok Ibu tunggal, janda tersebut memiliki seorang anak yang harus dilindungi. Maka ketika konten tersebut tersebar, Si anak akan ikut merasakan tekanan psikologis karena situasi yang dihadapi Ibunya.

Seharusnya, ketika konten tersebut diunggah, police cyber harus bertindak cepat memblokir konten dan menelusuri IP pengirim konten tersebut. Jika demikian baik korban atau pelaku akan mudah diamankan dan diproses secara hukum dengan benar.

Korban penyebaran konten akan terlindungi karena video tersebut tidak menyebar dengan cepat. Pelaku juga akan dengan cepat ditangkap dan dijerat dengan hukum berlaku.

Korban, meski dia turut andil atau bersalah, tetap saja, dia harus mendapatkan hak untuk dilindungi. Terlepas dia nanti terbukti bersalah atau tidak, setidaknya perempuan dalam konten itu tidak mengalami traumatis karena di-bully oleh banyak orang. Kita tentu tidak membenarkan sikap mem-bully orang lain. Begitu juga dengan anak perempuannya yang masih kecil.

Traumatis pada diri Ibu akan berpengaruh terhadap didikan anak. Begitu yang penulis pahami tentang mendidik anak. Rasa marah atau depresi pada seorang ibu akan menekan perkembangan fisik atau psikis anak tersebut. Dia tentu akan sulit bergaul dengan sesama temannya, akan menarik diri dari sekitar dan menjaga jarak komunikasi.

Sikap menjaga jarak komunikasi inilah yang kita hindari, jangan sampai baik Ibu atau anak yang jadi korban bully di sosmed menarik diri dan tidak bisa diajak komunikasi.

Akibatnya bisa fatal, gangguan jiwa atau bahkan suicide. Banyak kasus seperti ini, korban bully sosmed menarik diri, lalu membunuh diri sendiri karena tidak mampu menghadapinya.

Sungguh disayangkan, kasus seperti ini seakan berulang tanpa solusi yang baik dan benar.

Bagikan :

Jurnalis SUPI

Pangga Rahmad, Pimpinan Redaksi Suarapinggiran

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *