Sengkarut Sekolah Jarak Jauh

Sengkarut Sekolah Jarak Jauh
Anak belajar di rumah (shutterstock)

Penulis: Kartika Nurazmi | Editor: Kp

Suarapinggiran.online, Konsel – Virus corona belum benar-benar berakhir. Sekolah jarak jauh atau dalam jaringan (daring) hingga kini masih dijalankan.

Proses belajar mengajar secara daring bagaimanapun memunculkan soal-soal baru, terutama di tengah infrastruktur yang belum merata di sejumlah kota/daerah di Indonesia, untuk menunjang keberlangsungan sekolah daring. Tersedianya jaringan internet, misalnya.

Namun, ketersediaan jaringan internet pun tidak lantas menjawab persoalan-persoalan yang lain. Seperti pemberian tugas-tugas oleh Pendidik yang tidak sepadan dengan teori yang diberikan, juga jadi masalah, sebagaimana yang dialami oleh Fika, salah satu siswi di Madrasah Ibtidaiyah Swasta (MIS) Raudhatul Jannah; yang berada di Desa Bomba-Bomba, Tinanggea, Kabupaten Konawe Selatan (Konsel).

Kepada Jurnalis Suarapinggiran.online, Ibu Fika, Sumi, mengatakan, bahwa belajar daring semakin hari bertambah sulit. Pasalnya, setiap hari anaknya hanya mendapat tugas dari guru, berupa soal dari tangkapan layar screenshot, atau hasil potret dari ponsel yang, sering kali foto itu tak bisa dibaca dengan jelas.

“Tidak ada materi yang diberikan sebelumnya dari pihak guru. Jika anak saya mau menanyakan kembali kepada guru, guru tersebut sudah tidak online atau membalas komentar anak didik di grup (WhatsApp) belajar,” kata Sumi, Minggu (18/10/2020), di kediamannya di Desa Asingi, Tinanggea, Kabupaten Konawe Selatan (Konsel).

Fika, tambah sumi, sering mengeluh. Mungkin jenuh. “Bosan belajar online, dia ingin sekolah tatap muka seperti dulu,” katanya.

Di waktu yang sama, Fika juga berkata bahwa Guru seakan lepas tangan jika ada pertanyaan yang tak dimengerti oleh para siswa.

“Kalau kasih soal, Bu Guru hanya bilang, ‘kalau ada yang tidak dimengerti, lihat di internet’,” pungkas Fika yang kini duduk di bangku kelas empat.***

Catatan:

Sebaiknya, pihak guru di manapun berada menyajikan materi terlebih dahulu kepada murid sebelum memberikan soal. Bisa berupa membuat video penjelasan sendiri atau mengambil dari sumber tepercaya. Jika anak dibiarkan mencari sumber pengetahuan sendiri, maka tidak ada jaminan jika sumber yang dibaca anak sekolah dasar tersebut adalah sumber yang tepercaya.

Di internet, banyak sekali beredar bahan bacaan yang tidak jelas sumbernya. Sudah jadi tugas guru dan para orang tua membimbing dan mengarahkan mereka memilah kelayakan bahan bacaan.

Jika tidak ada timbal balik dari guru tentang soal yang setiap hari diberikan, maka murid dan wali murid tidak akan tahu seberapa paham anak tersebut terhadap materi pelajaran.

Bagikan :

Jurnalis SUPI

Pangga Rahmad, Pimpinan Redaksi Suarapinggiran

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *