Sederet Pilu Nelayan Miskin

Sederet Pilu Nelayan Miskin

“beda kalau musim kemarau, kalau musim hujan atau musim angin kencang kami mendayung harus kuat-kuat dan harus cepat karena kayak mendaki kalau dapat ombak besar”

Bisa dibayangkan, apa yang dapat dilakukan nelayan tradisional untuk bertahan hidup. Jika setiap hari mereka harus menguras tenaga menghadapi gejolak disetiap musim. Belum pula itu dapat teratasi, para pejuang laut bebas ini harus menghadapi kenyataan semakin hilangnya potensi tangkapan mereka dari hari-kehari.

Dibanding nelayan modern, nelayan tradisional seperti ini juga tidak akan mampu memiliki daya jangkau yang lebih jauh, hingga hasil tangkapan, pun jelas menunjukkan perbedaan.

Meski demikian, tidak jarang nelayan-nelayan ini rela meninggalkan sanak keluarga, hanya untuk mendatangi lokasi tangkapan baru di laut lepas sana dengan jarak tempuh yang cukup lama.

“Disini tangkapan ikan kami sudah kurang, jadi biasa kami pergi ke Motui atau di Lalimbue, bagian Konawe Utara sana, disana tangkapan tidak banyak juga tapi Alhamdulillah bisa cukup untuk keluarga” ujar Anwar saat diwawancarai suarapinggiran.online diantara beberapa nelayan lainnya belum lama ini (12/12) di Pesisir Pantai Batu Gong.

Seperti pengakuan nelayan pesisir Watunggarandu itu, para nelayan pencari kepiting di Desa Sambaraasi Kecamatan Kapoiala juga mengeluhkan hal yang serupa. Minimnya peralatan, Jauhnya lokasi dan semakin kurangnya hasil tangkapan seakan berubah menjadi menu harian mereka sepanjang waktu.

“Kami ada dua kelompok, mungkin ada sekitar dua puluh orang, belum lama ini kami juga ke bagian Motui sana, disana kami tinggal selama satu minggu. Kalau bagus cuaca penghasilan bisa diatas 600 ribu lebih, tapi kalau musim hujan atau angin kencang sukur-sukur bisa dapat 300 ribu” imbuh Marsun nelayan warga setempat kepada suarapinggiran.online (15/12).

Lebih jauh, lelaki paruh baya ini menuturkan, tingkat kesejahteraan nelayan di desa tempat ia dan keluarganya bermukim itu masih relatif berada dibawah garis kemiskinan. Minimnya tingkat pendidikan warga nelayan dan tidak adanya alternatif pekerjaan diluar profesi itu menjadi beberapa faktor penyebabnya, selain bahwa secara struktural kebijakan pemerintah kerap tidak selalu menyentuh mereka sebagai pihak yang berhak menerima bantuan.

“karena seperti beginilah, kami disini kerjanya hanya itu itu saja, hari-hari di laut, masalahnya ini sudah dari orang tua dulu, baru di sini nelayan rata-rata hanya tamat SMP saja, ada juga yang hanya tamat SD” ujarnya lagi.

Menurut pengakuannya, beberapa tahun silam, ia dan beberapa nelayan lainnya telah mengajukan proposal bantuan alat tangkap kepiting dan perahu motor kepada Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Konawe melalui pemerintah desa. Namun sampai saat ini, realisasi dari usulan tersebut belum pula kunjung diketahui.

Bahwa minimnya tingkat kesejahateraan warga nelayan kerap terjadi dimana-mana. Faktor internal dalam mekanisme produksinya tidak saja menjadi penyebab utama. Hingga kemiskinan itu menjadi absolud, ketika faktor eksternal yang tercipta di lingkungannya justru bdibiarkan terus terjadi.

Sederet Pilu pun menjadi fakta, para nelayan selalu terjebak kemiskinan.(*jm)

Bagikan :

Jurnalis SUPI

Pangga Rahmad, Pimpinan Redaksi Suarapinggiran

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *