Perempuan Tanpa Nama

Perempuan Tanpa Nama

“Jane, apa kau ingin melihat salju?” tanyaku pada anak semata wayangku yang kini genap berusia delapan tahun.

Dia hanya tersenyum, lalu menatapku penuh binar di matanya. Mungkin dia menginginkannya, tapi itu hanya bualanku saja, untuk menghiburnya, di musim dinging dan cuaca hujan. Aku katakan, mungkin saja di tempat kumuh ini akan turun salju. Maka semuanya akan menjadi putih dan indah.

Tidak ada kardus berserak, tidak ada tikus berteriak, tidak ada sampah menyengat. Mungkin di tempat bersalju seperti Eropa tidak ada orang miskin dan menderita sepertiku dan Jane.

Jane menggeser duduknya dan mendekat padaku, dia meletakkan tangan di wajahku lalu mengusapnya. Entah apa yang dia sapu, lalu seketika hatiku merasakan sakit yang amat menusuk.

Jane jarang menyentuh wajahku, hanya ketika aku sakit, atau dia yang sedang sakit. Mungkinkah, dia sedang merasakan sakit.

“Jane, apa kau sakit?”
Jane mengalihkan pandangan lalu dia hanya tersenyum pahit, matanya berembun. Dia meletakkan kepalanya di pangkuanku, di emperan toko yang telah tutup aku membaringkan badannya yang lemah. Sudah dua hari kami tidak makan, hanya sesekali memungut remahan roti di tong sampah, atau meminum air mineral bekas.

Aku tidak peduli lagi pada virus corona yang menyiksa, nyatanya deritaku sejak melahirkan Jane tanpa suami lebih menyakitkan. Menjadi ibu tunggal tanpa sanak saudara, terkatung-katung di tengah Ibu Kota.

Aku pergi, aku harus pergi dari rumahku sendiri karena orang-orang di sana, mengusirku dari rumah. Mereka biadab, harusnya bukan aku yang dicaci dan diusir. Harusnya mereka membunuh Sapto, laki-laki biadab yang telah merusak kehidupanku.

Penolakan Rita tetanggaku, terhadap cinta Sapto, telah membuatnya kalap mata, lalu merusakku. Anehnya, bukan Rita yang dirusak olehnya, tetapi aku.

Orang-orang di kampung itu telah menyalahkanku terhadap apa yang terjadi. Aku hanya buruh pabrik yang setiap pagi dan petang harus bekerja. Tidak ada waktu untuk mengganggu laki-laki semacam Sapto, apalagi memadu kasih. Satu sore, aku di seret oleh Sapto, dari jalan, di antara senja dan rimbunnya daun, duniaku telah di hancurkan olehnya.

Lalu ketika aku menanggung beban berat ini, orang-orang hanya mengolok dan menyalahkanku, tanpa mengadili Sapto. Dia, dengan wajah seakan tanpa dosa mengatakan bahwa aku memfitnahnya. Dia mengatakan bahwa aku yang menggodanya.

Laki-laki sialan, usiaku kala itu menjelang dua puluh tahun. Kata mereka usia yang cukup untuk menikah. Lalu, usia itu harus hancur karena perbuatan bejatnya. Tidak ada laki-laki yang mau mendekatiku, setelah perbuatan Sapto padaku.

Usapan tangan Jane menyadarkanku dari lamunan. Kenangan pahit itu, sungguh menyiksa selama sembilan tahun ini. Meski aku telah pergi dari orang-orang di sana, masa lalu yang kelam tetap saja mengikuti langkah.

Aku tidak mau membesarkan Jane dilingkungan seperti itu. Penuh nyinyir terhadap kaum perempuan. Tetapi, membawanya hidup di Ibu Kota, lebih sengsara dari pedasnya mulut tetangga.

Jane sepertinya sakit, entah sakit apa, aku tak pernah membawanya ke dokter. Untuk makan saja, aku tidak punya, apalagi harus ke dokter. Gajiku sebagai buruh cuci piring di restoran tidak cukup. Sudah tiga hari gaji itu habis, masih ada waktu seminggu hingga gaji berikutnya.

Oh, Jane, anakku yang malang. Aku hanya ingin membesarkannya dengan penuh cinta, walau tidak berlimpah harta, tapi cukup untuk menyambung nyawa. Aku ingin Jane menjadi kuat, melindungi para perempuan lemah sepertiku. Memberinya kehidupan yang layak dan menerima mereka apa adanya.

Aku terpejam membayangkan Janeku menjadi pelindung para perempuan sepertiku. Menampungnya, memberi mereka pendidikan yang layak, membimbing mereka bangkit kembali, menata hidup yang layak, lalu mengantar mereka pergi dengan tersenyum.

“Alangkah indahnya mimpiku, Jane. Cepatlah sehat, sayang. Ayo, kita berjuang.”

Rupanya, Jane terlelap dipangkuan. Aku tak punya selimut lagi setelah secara paksa kami diminta pergi oleh pemilik kontrakan. Hanya sekadar membawa baju saja pemilik kontrakan menolaknya. Tunggakan tiga bulan telah membuat pemiliknya berang dan menunjukkan sisi lain padaku. Cepatlah sembuh Jane, begitulah harapku pada Tuhan.

Aku mengikuti Jane, menutup mata, melepaskan lelah pada secarik mimpi. Berharap setelah bangun, kehidupan akan menjadi lebih baik.

Pukul tiga dini hari, aku bangun, Jane masih terlelap. Aku berusaha menggendongnya, kami harus pergi jika tidak ingin diperlakukan seperti anjing oleh mereka. Para pemilik toko dan petugas, katanya demi menjaga keamanan. Padahal orang seperti kami tidaklah mencuri.

Aku mambawa Jane di punggung, entah akan ke mana lagi. Hanya menyusuri jalan yang masih sepi, tetesan air embun terlihat di atap-atap ruko. Lampu jalan yang besar dan terang menghiasi jalanan sepi. Sayang sekali, hidpku tidak seterang lampu itu.

Sudah hampir pagi, aku berhenti di pinggir gang, ada sebuah tempat duduk di sana. Kubaringkan Jane yang masih lelap. Dia harus bangun. Pikirku, aku mengusap wajahnya. Takut jika dia kaget.

“Jane, bangun sayang. Ini sudah pagi.” Aku mengusap-usap wajah Jane berapa kali. Mengapa wajahnya dingin sekali.

“Jane, bangun….Jane, Ibu mohon,Jane….”

Jiwaku seakan ikut melayang bersama Jane. Lemas, berkeringat dan nafas tak beraturan. Janeku telah pergi. Dia meninggakanku sendiri di dunia ini. Janeku pergi, tanpa merasa bahagia dahulu. Janeku pergi, tanpa sempat mewujudkan mimpiku menjadi perempuan tangguh.

Janeku pergi dalam kebisuan, tanpa bisa memanggilku Ibu. Jane, Jane, Jane, oh Janeku. Air mataku luruh seperti anak sungai. Dadaku rasanya begitu sakit tak terperi. Mengapa Janeku yang pergi, mengapa bukan aku saja.


Tiga bulan telah lewat setelah Jane pergi, aku di sini, bersama Janeku yang lain. Di sebuah rumah singgah bersama Mbak Dina, perempuan yang menyelematkanku dan menguburkan jasad Jane dengan layak.

Kami membesarkan anak-anak seperti Jane, memberikan perlindungan kepada perempuan tanpa nama, tanpa bertanya kamu anak siapa?, apa dosamu, dan salahmu.

Kami hanya membuka pintu, kepada setiap orang yang datang tanpa meminta apa pun. Karena sesungguhnya Tuhan juga melakukan demikian. Dia membuka semua pintu tanpa menanyakan apapun. Mengapa kita manusia memberikan label kepada setiap orang yang kita temui.

Tidurlah, Jane, jika kamu tidak diberi kemampuan bicara di dunia, semoga Tuhan memberinya kemampuan untuk bernyanyi di surga.(*)

Penulis : Kartika Badar

Bagikan :

Jurnalis SUPI

Pangga Rahmad, Pimpinan Redaksi Suarapinggiran

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *