MEDSOS DAN NASIONALISME PELAJAR

MEDSOS DAN NASIONALISME PELAJAR

PENGGUNAAN MEDSOS DALAM

MENGOBARKAN SEMANGAT

NASIONALISME BAGI PELAJAR

Oleh : Fheny Friscasadin Ilyas (Siswi MAN 1 Konawe)

Dahulu sebelum Indonesia meraih kemerdekaan, rakyat Indonesia berjuang mati- matian agar bangsa ini dapat merdeka dari belengggu penjajahan. Semangat rakyat Indonesia terutama para pemudanya sangat luar biasa. Dengan semangat persatuan dan sikap rela berkorban akhirnya bangsa ini dapat meraih kemerdekaan. Saat itu semua kekuatan, harta benda bahkan nyawa mereka korbankan. Dimana-mana para pemuda mengobarkan semangat kemerdekaan.

Ketika Bangsa Indonesia sudah merdeka, ketika Bangsa Indonesia sudah terbebas dari belenggu penjajahan justru ada musuh lebih berat yang sedang dialami oleh bangsa ini. Musuh besar itu adalah lunturnya rasa nasionalisme di kalangan para pemudanya. Pemuda yang seharusnya dapat menjadikan masa depan suatu bangsa lebih baik, justru sekarang menjadi musuh yang dapat menghancurkan kehidupan bangsa di masa depan. Pemuda Indonesia yang dulunya berjuang mati-matian untuk menyatukan bangsa dan mengusir para penjajah sekarang justru mulai melupakan rasa cintanya terhadap bangsanya sendiri. Mereka justru lebih bangga dengan menjadi bagian dari bangsa lain. Sikap inilah yang akan menjadi musuh terbesar bangsa di masa yang akan datang. Pemuda yang akan mengharumkan nama bangsa justru akan melupakan dan meninggalkan bangsa yang sudah membesarkannya. Kondisi yang dialami bangsa ini sangat memprihatikan.

Nasionalisme yang bermakna rasa cinta seluruh tumpah darah Indonesia terhadap tanah airnya ini juga terdampak oleh globalisasi. Globalisasi telah mendorong suatu bentuk interaksi antar individu, kelompok dan bangsa yang menafikan dimensi ruang dan waktu. Globalisasi juga membawa era keterbukaan yang menjadikannya sebagai dua sisi mata uang terhadap konsep nasionalisme suatu bangsa. Selain mendorong kemajuan di berbagai bidang, globalisasi pun tak kuasa membendung masuknya berbagai pengaruh budaya dan paham asing yang tidak sesuai dengan jati diri bangsa tersebut.

Salah satu perkembangan globalisasi yang dapat mempengaruhi paham pemuda adalah keberadaan media sosial yang sangat besar pengaruhnya mendorong mengikisnya pola pikir nasionalisme yang tekad tersebut telah diikrarkan pertama kalinya melalui Sumpah Pemuda oleh pemuda-pemudi Indonesia pada tanggal 28 Oktober 1928, yang mengakui, Satu Tanah Air Indonesia, Satu Bangsa Indonesia, dan Satu Bahasa yaitu Bahasa Indonesia. Tujuh belas tahun kemudian, pada tanggal 17 Agustus 1945, atas berkat Rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan yang luhur, maka tekad tersebut mewujudkan kemerdekaan Indonesia.

Media sosial (Social Media) adalah saluran atau sarana pergaulan sosial secara online di dunia maya (internet). Para pengguna (user) media sosial berkomunikasi, berinteraksi, saling kirim pesan, dan saling berbagi (sharing), dan membangun jaringan (netwotking). Keberadaan media cetak dan elektronik seakan mulai terlupakan dengan adanya internet.
Penggunaan media sosial sebagai wadah menyebarkan informasi dilanda krisis, termasuk krisis rasa cinta terhadap tanah air oleh para penggunanya. Krisis tersebut dipengaruhi beberapa faktor antara lain :

• Tertinggalnya Indonesia dengan negara-negara lain dalam segala aspek kehidupan, membuat para pemuda tidak bangga lagi menjadi bangsa Indonesia. Mereka justru bangga menjadi bagian dari negara lain misalnya merasa bangga ketika menggunakan produk luar negeri mengupdet postingan-postingan barang luar negeri di medsos.

• Para pemuda kini dikuasai oleh narkoba dan minum-minuman keras, sehingga sangat merusak martabat bangsa Indonesia. Jika hal ini berlangsung terus-menerus, tentu saja membuat rasa nasionalisme di kalangan para pemuda semakin luntur. Jika para pemuda sudah tidak memiliki rasa nasionalisme maka Bangsa Indonesia akan kehilangan sosok penerus bangsa yang baik. Hal ini menjadi tantangan serius bagi bangsa Indonesia.

• Paham liberalisme yang dianut oleh negara-negara barat yang memberikan dampak pada kehidupan bangsa. Para pemuda meniru paham libelarisme, seperti sikap individualisme yang hanya memikirkan dirinya sendiri tanpa memperhatikan keadaan sekitar dan sikap acuh tak acuh pada pemerintahan. Paham seperti ini akan membuat rasa persatuan semakin berkurang sehingga membuat bangsa ini mudah dihancurkan dan diadu domba oleh bangsa lain.

Banyaknya faktor tersebut informasinya didapat pada postingan media sosial (Face book) dengan tayangan tersebut yang telah disebutkan membuat Bangsa Indonesia akan semakin rapuh. Oleh karena itu perlu adanya beberapa solusi untuk mengatasi berbagai faktor diatas, solusi tersebut antara lain adalah :
• Peran Keluaga
• Peran Pendidikan
• Memberikan pendidikan moral, sehingga para pemuda tidak mudah menyerap hal-hal negatif yang dapat mengancam ketahanan nasional.

Era globalisasi juga seharusnya bisa dimanfaat oleh para pelajar untuk lebih meningkatkan rasa nasionalisme. Dengan cara membentuk grup di medsos untuk saling bertukar informasi tentang nasionalisme dan Saling mengingatkan untuk terus memiliki rasa nasionalisme antar pelajar. Dengan begitu dampak positif dari era globalisasi dapat dirasakan oleh para pelajar.

Dengan cara ini diharapkan para pemuda tidak mudah terpengaruh dengan berbagai hal yang dapat menghancurkan bangsa. Nasionalisme sebagai imunitas bangsa telah menjadi booster kemerdekaan yang telah lama dicita-citakan oleh bangsa Indonesia. Nasionalisme bersama berbagai nilai luhur bangsa lainnya selanjutnya diabadikan dalam Pancasila, Dasar Negara dan ideologi bangsa Indonesia, yang merupakan pedoman sekaligus landasan dalam berperilaku guna mencapai arah dan cita-cita bangsa Indonesia.(*)

Penulis : Fheny Friscasadin Ilyas
( Siswi MAN 1 Konawe)

Bagikan :

Jurnalis SUPI

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *