Memikirkan Kembali Arah Gerakan Tani dan Land Reform Saat Ini

Memikirkan Kembali  Arah Gerakan Tani dan Land Reform Saat Ini


Oleh : Iqbal Pandji Putra

Setelah pasca reformasi digulirkan, telah memberikan pengaruh gerakan sosial dan poltik akar rumput di tingkat lokal. Tetapi perubahan itu belum memberikan perubahan sosial yang mendasar bagi bagi kaum tani di Pedesaan. Perubahan-perubahan politik yang terjadi pasca 1998 hingga saat ini, selain menciptakan konsolidasi politik baru dari politikus pro status quo yang lama maupun yang baru, pengusaha, militer, dan preman. Perubahan itu hanya menghasil perangkat-perangkat bagi demokrasi liberal ketimbang terjadinya demokrasi rakyat. Serta tidak mendorong tercipta perubahan politik pro rakyat untuk menyelesaikan kasus konflik tanah dan ketimpangan penguasaan tanah.

Dari hasil observasi dan kunjungan dilapangan bahwa Gerakan sosial yang berbasis massa didaerah Sumatera (1) secara politis telah menjadi kekuatan yang dapat membawa aspirasi dan kepentingan anggotanya. (2) Menjadi pengikat untuk konsolidasi massa yang sangat penting bagi para politikus untuk meraih dukungan politik untuk mempertahankan maupun merebut kekuasaan. Pada awal proes perjuangan gerakan soasial ini memberikan angin besar untuk berubah pada kaum tani pedesaan, seiring perjalanan waktu organisasi gerakan sosial yang berbasis massa mulai dapat melakukan mengembang kerjsama, berkolaborasi, maupun membangun aliansi kekuatan kekuatan politik lainya. Termasuk partai politik dan maupun dengan pemegang otoritas di wilayahnya. Dampak dengan keterbukaan politik formal ini, membuat para organisasi tani dan aktivisnya terlibat dalam proses-proses politik formal dan politik perebutan kekuasaan, sehingga aktivitas dan agenda perjuangan sejati hilang dan melebar kearah yang tidak jelas. Kemudian Politik di era reformasi membuat Kompromi-kompromi dan kerjasama antara pemilik modal, preman dan politisi yang fragmatis hingga menyeret aktivis dan gerakan sosial di pedesaan terlibat dalam pusaran pertukaran kepentingan politik praktis.

Bagaimana nasib Land reform sejati dan nasib jutaan rumah tangga petani tak bertanah dan kaum petani penggarap yang jumlah semakin hari semakin bertambah dari waktu-ke waktu di Indonesia ini?… Untuk sementara ini sesungguhnya mereka semakin terkubur dengan berjalannya waktu dengan di perparah oleh aktivis dan organisasi sosial yang bermanuver politik praktis yang membawa klaim penderitaan kaum tani ke dalam arena politik kekuasaan.dan hegemoni global dari idiologi neoliberal menjadi ancaman serius bagi gerakan sosial dan Kaum tani

Dengan perubahan ekonomi dan politik yang terjadi saat ini, yang seharus dapat di jadikan acuan dalam melanjutkan agenda-agenda rakyat dalam membangun demokrasi rakyat, untuk tetap pada garis perjuangan massa yang luas. Ini diperlu sebuah kepemimpinan yang berhati baja dan tangguh dalam menjaga konsistensi dan perjuangan klas. Ibarat perahu Besar yang ingin berlayar ke tujuan, di perlukan Nahkoda dan kelasi yang terdidik, disiplin, kolektif. Sehingga misi tujuan berlayar tersebut tidak tergoda dan terjerumus di lobang yang sama. Memang tidak mudah melakukan perubahan besar itu, tetapi harus terus bekerja keras lagi untuk meluruskan arah perjuangan dari gerakan kaum tani, dan kita tidak dapat menyerahkan keadaan ini dalam hegemoni global yang neoliberal.

Analisa gerakan tani dan aktivis di Indonesia ini, memberikan masukan dan kritik yang telah kita kerja untuk memperbaiki langgam kerja yang lebih solid dan berhari depan. Sehingga perjuangan yang kita harapkan bisa tercapai. Teringat kata orang tua saya (alm. Bung Mujiat) “ Keberhasilan kita adalah membangunan keteladanan di padang ilalang yang sedang kering, untuk mendidik massa yang kritis dan berhati mulia sehingga kesadaran itu muncul dari hati yang dalam, bukan semu dan sesaat.”

Salam saya,….

IPP

Bagikan :

Jurnalis SUPI

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *