Melawan Lupa : Fitriani Kerap Sendiri

Melawan Lupa : Fitriani Kerap Sendiri

suarapinggiran.online_ setahun lalu, ia menjadi akibat utama dari munculnya simpati dan kepedulian orang-orang, tak terkecuali pemerintah. Hingga dengan berbagai bentuk bantuan yang datang itu, Fitriani akhirnya bisa menjalani operasi akibat penumpukan cairan di rongga ventrikel otak (Hidrosefalus) yang dideritanya sejak lahir.

Kini, bayi perempuan yang genap berusia dua tahun di bulan februari nanti itu masih tetap terbaring lemas di tempat tidurnya. Meski ukuran kepala yang tidak lagi sebesar awalnya, fitriani tidak menunjukkan perkembangan fisik yang normal. Badannya bahkan terlihat kurus dan hanya mampu bergerak kecil seadanya.

Orang tuanya tak bisa berbuat banyak karena keterbatasan. Nutrisi untuk satu-satunya anak perempuan mereka itu hanya bisa ada ketika ekonomi keluarga sedikit bisa menutupi. Terlebih pasca operasi, bantuan dari pihak pemerintah terputus begitu saja tanpa sebab yang jelas.

“Sejak habis operasi itu tidak ada bantuan lagi, kalau saya bawa di puskesmas hanya ditimbang saja, begitu saja, tidak ada apa-apa lagi” keluh ibu fitriani saat diwawancarai suarapinggiran.online tentang bantuan nutrisi dan obat-obatan untuk anaknya, kemarin (01/01) di rumah kediaman mereka sekeluarga, Desa Puroda Jaya Kecamatan Uepai Kabupaten Konawe.

Meski demikian, ibu beserta ayah dari bayi penderita “kepala air” (istilah lain Hidrosefalus) ini tetap tegar merawat buah hati mereka. Dengan hanya mengandalkan sepetak kebun tempat mereka menanam tanaman jangka pendek untuk kemudian dijual ke pasaran, keluarga sederhana ini menghidupi fitriani beserta tiga orang saudaranya tanpa banyak berharap.

Fitriani pun kerap sendiri tanpa ibu dan ayahnya. Letak lahan garapan yang tidak dekat menjadikan fitriani harus tetap berada di rumah dan menunggu kedua orang tuanya kembali ketika hari menjelang magrib. Peran ganda yang dilakoni ibunya ini, menjadi indikator betapa kebutuhan ekonomi keluarga tidak akan mencukupi dengan hanya mengandalkan peran ayah sebagai kepala rumah tangga.

Adalah Aswar, kakak kedua fitriani yang selalu sabar merawat ketika rutinitas bertani dari kedua orang tuanya tak bisa ditunda setiap harinya. Meski kondisi tubuh juga mengalami cacat, anak laki-laki yang baru duduk di bangku kelas tiga sekolah dasar ini tampaknya telah terbiasa menjaga agar adiknya yang malang tidak meneteskan air mata karena tanpa timangan ibu.

“Kalau kami ke kebun, yang jaga kakaknya, itu Aswar namanya, baru kelas tiga SD. jadi untuk fitriani kami siapkan buburnya saja sebelum berangkat” ujar ibu ini dengan nada sabar.

Suasana akhir wawancara dibalik teriknya mentari menjadi pecah, setelah Fitriani yang dalam pangkuan ibunya akhirnya menggerakkan tangannya sendiri mengarah kepada jurnalis.

Seraya menjelaskan kebiasaannya, Ibunya berkata bahwa fitriani ingin saling bersentuh tangan. Mungkin isyarat rasa terima kasih. (*)

Laporan : Nawir SUPI.

Bagikan :

Jurnalis SUPI

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *