Mega Industri Morosi, Peluang atau Petaka?

Mega Industri Morosi, Peluang atau Petaka?

Narasi tentang meningkatnya perekonomian dan sejahteranya masyarakat karena pembangunan sepertinya mesti disoal. Proyek proyek strategis nasional hampir dipastikan selalu menoreh luka bagi rakyat kecil.

Sebagai salah satunya, Kawasan Mega Industri Morosi Kabupaten Konawe. Sejak tahun 2014 silam, sebuah Perusahaan milik investor asal China mulai beroperasi serta mendirikan smelter di tahun 2017 dengan luas lahan 2.253 hektar. Nilai investasi yang telah digelontorkan tidak tanggung-anggung, mencapai US$ 1 miliar atau sekitar Rp 14 triliun.

Kecamatan Bondoala dan Kapoiala merupakan kecamatan lingkar kawasan industri itu selain Kecamatan Morosi. Berada di wilayah pesisir laut dan kali konaweeha dengan luas tambak kurang lebih 70 % dari luas total wilayah masing-masing kecamatan tersebut. Artinya, mayoritas masyarakatnya menggantungkan hidup sebagai nelayan dan petani tambak. Disektor perikanan itu mereka mengais rupiah menghidupi keluarga dengan menahan terik dan dingin di lautan, serta membanting tulang di tambak-tambak mereka dengan tekun dan sabar.

Tambak petani di antara aktivitas Mega Industri Morosi

Diawal tahun 1999, sejak adanya peluang disektor itu, masyarakat berbondong-bondong membuka dan mengelolah lahan tambak milik mereka meski dengan cara manual. Bibit ikan pun ditabur, dengan jumlah mencapai 5.000 ekor per hektar untuk kemudian dirawat dan ditunggu tiga sampai empat bulan lamanya hingga ikan siap dipanen.

Jika tingkat kematian ikan sebesar 10 persen saja dari total jumlah bibit yang ditebar, hasil yang didapatkan itu bisa mencapai 2 ton per hektarnya, dan dalam jangka waktu 3 sampai 4 bulan, pendapatan petani bisa mencapai 6 ton pertahun dengan harga Rp. 18.000 per kilogram. Cukup menguntungkan. Sedangkan hasil dari budidaya udang ping yang dipanen selama 14 hari dalam sebulan, petani rata-rata memperoleh sebanyak 200 kilogram per bulan dengan kisaran harga Rp. 15.000 sampai dengan Rp. 18.000 per kilogramnya.

“Tetapi itu dulu, sekarang sejak berdirinya pabrik PT. VDNI dan PT. OSS di wilayah kabupaten konawe khususnya kecamatan yang berada diwilayah pabrik tersebut sangat membawa petaka bagi petani tambak” ujar Rasmin, SH., Sekretaris Lembaga Pemberdayaan Bondoala-Morosi-Kapoiala Konawe kepada suarapinggiran,(16/05).

Jalan produksi korporasi di antara tambak petani

Intensnya aktivitas di mega industri itu telah mengikis peluang petani untuk sejahtera. Betapa tidak, Pembuatan jalan holing telah menutup sebagian pengairan tambak masyarakat petani, alat berat dan kendaraan 10 roda yang memuat material ore nikel, batu bara dan mobil trailer yang memuat bahan kontruksi pembangunan pabrik menjadikan debu beterbangan menutupi dan mencemari tambak, lumpur jalanan yang dilewati kendaraan produksi itu pun akhirnya menyusuri tambak dan menjadi sebab pendangkalannya.

“aktivitas perusahaan-perusahaan itu sangat berdampak pada lahan tambak masyarakat, sirkulasi air yang tidak memadai karena ditutupnya sebagian pengairan yang mengairi tambak petani, terjadinya pendangkalan dan penyempitan pengairan dan saluran serta goncangan dan kebisingan kendaraan yang melintasi lokasi tambak sangat mengganggu perkembangbiakan ikan dan udang di dalamnya” ujarnya lagi.

Tambak petani yang mengalami pendangkalan dan pencemaran

Kini, kondisi petani tambak tak lagi seperti sebelumnya. Peluang untuk sejahtera pun hilang. Tingkat kematian ikan rata-rata yang mencapai 50 persen menjadikan petani harus pasrah dengan penghasilan tambak mereka meski berhektar-hektar. Kenyataan pahit ini diperparah dengan semakin lamanya waktu yang ditunggu petani untuk memanen. Perkembangan bibit ikan yang lambat akibat air yang tercemar menjadikan waktu panen baru bisa dilakukan di tahun ke 2 pasca menabur benih.

Meski saat ini harga udang dogol alias udang ping itu naik dikisaran 25 ribu sampai 30 ribu per kilogram misalnya, faktanya petani tambak hanya bisa memanen 20 kilogram saja per bulannya. Faktor distribusi air, pendangkalan dan pencemaran menjadi pemicu utamanya.

Kondisi saluran air menuju tambak petani yang mengalami penyempitan dan pencemaran

“Tambak-tambak kami disini sudah dangkal, dulu bisa mencapai satu meter dalamnya, tapi sekarang karena lumpur-lumpur itu turun ke dalam tambak jadinya dangkal, bisa kita lihat sendiri disana, debu-debu batu bara dan material bangunan perusahaan itu yang menutupi tambak kami dan bikin airnya jadi tercemar” keluh Tamsir, salah satu petani tambak di Desa Diolo, Kecamatan Bondoala kepada suarapinggiran kemarin (16/05).

Petaka ini menetaskan duka tidak saja bagi petani, tetapi juga keluarga mereka di rumah. Betapa tidak, penghasilan yang menurun drastis dari usaha perikanan mereka lantaran dampak pembangunan mega industri itu harus pula dibayar dengan perasaan was-was. Pasalnya, lokasi tambak mereka yang telah sejak awal dipertahankan untuk tidak dijual kepada perusahaan, kian terhimpit oleh jalan-jalan produksi baru yang dibangun pihak korporasi. (*jm)

Rasmin, SH., Sekretaris Lembaga Pemberdayaan Bondoala-Morosi-Kapoiala Konawe
Bagikan :

Jurnalis SUPI

Pangga Rahmad, Pimpinan Redaksi Suarapinggiran

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *