Masyarakat Adat Praing Umalulu Dukung Moril Hariz dan Fatia

Masyarakat Adat Praing Umalulu Dukung Moril Hariz dan Fatia

Masyarakat Adat Praing Umalulu di Sumba Timur, Berikan Dukungan Moril untuk Hariz Azhar dan Fatia lewat Ritual Kepercayaan Marapu (25/03/2022). Masyarakat adat Praing Umalulu berada di Sumba Timur, NTT, dan merupakan salah satu komunitas masyarakat adat yang warganya kebanyakan menganut kepercayaan Marapu.

Saat ini masyarakat Adat Praing Umalulu masih cemas dengan upaya ekspansi perusahan PT. Muria Sumba Manis di tanah tanah mereka. Sejak tahun 2015 mereka terus berjuang untuk mempertahankan tanahnya dari upaya penguasaan oleh PT. MSM itu. Salah satu pihak yang membantu proses perjuangan warga adalah Haris Azhar yang notabene merupakan aktivis HAM dan Direktur Lokataru. Haris Azhar dianggap setia untuk menemani perjuangan warga walaupun dengan keterbatasan jarak antara Jakarta dan Sumba.

“Kami sangat berterimakasih dengan bantuan yang diberikan Bang Haris kepada kami. Perusahan selama ini selalu menganggap remeh kami. Begitu adanya Bang Haris mereka lebih hati hati dan tidak sembarangan lagi,” ujar Rambu Dai Mami, Masyarakat adat Umalulu sekaligus aktivis perempuan di Komunitas Sabana Sumba.

Komunitas Sabana Sumba sendiri ada juga salahsatu perannya diinisiasi oleh Haris Azhar. Hingga Haris telah dianggap sebagai keluarga sendiri.

“Kami mengenal bang Haris Azhar sejak tahun 2017 ketika masyarakat adat praing Umalulu berjuang mempertahankan tanah adat milik masyarakat adat Praing Umalulu, sejak saat itulah pak Haris Azhar menjadi bagian dari keluarga kami di Sumba. Prinsip kami adalah kami adalah Haris azhar dan Haris Azhar adalah kami, sehingga jika ada persoalan, menjadi persoalan bersama dan akan saling mendukung untuk keluar dari persoalan yang ada” ungkap Ndilu Hamba Nuha

Masyarakat adat ini telah mengetahui masalah yang dihadapi Haris Azhar dan Fatia. Serta dengan tegas menyatakan bahwa masalah yang dihadapi Hariz adalah masalah mereka juga.

“Beberapa waktu yang lalu pak Haris Azhar mendapat persoalan yang mana dilaporkan oleh pak Luhut. Masalah yang di hadapi pak Haris mejadi pergumulan kami juga yang selain menjadi keluarga tapi juga sebagai salah seorang yang dikuasakan oleh masyarakat adat sebagai pengacara” tegas Rambu Amy.

“Dan ketika mengalami persoalan di Jakarta, kami juga sebagai keluarga terus mendukung doa lewat kepercayaan kami masing masing agar pak haris dan mbak fatia tetap dalam perlindungan sang kuasa ketika sedang berjuang mengungkap kebenaran,” terang Agus Kamudu salah satu masyarakat adat Amalulu yang lain.

Salah satu bentuk dukungannya yakni dengan melakukan ritual sebagai bagian dari kepercayaan Marapu. Ritual ini dimaksudkan agar Hariz dan Fatia terhindar dari malapetaka dan mampu melewati masalah yang dihadapi dengan kuat. Ritual tersebut dipimpin oleh Ma Urratu/Ama Bokul Hamayangu (imam Marapu).

“Kami mengurbankan kurban 4 ekor ayam. Meminta kepada Tuhan yang kami percaya, semesta, dan para leluhur di Sumba untuk tetap melindungi pak Haris, mbak fatia dan team dari segala macam hal hal yang tidak diinginkan. Juga meminta Tuhan, semesta dan para leluhur menjaga agar kebenaran yang diperjuangkan mendapat jalannya,” ungkap Hinggu Maramba Amah sebagai pemimpin ritual.

Proses ritual berjalan lancar dengan diikuti oleh sekitar 50-an masyarakat adat Praing Umalulu.

“Kami melihat lewat hati ayam bahwa Haris dan Fatia dapat melewati masalah ini dan tidak ada tanda tanda sedikitpun mereka akan mendapatkan malapetaka,” ujar Hinggu Maramba Amah.

Rencananya, Proses ritual akan digelar lagi di kampung lain di luar Praing Umalulu sebagai bentuk solidaritas dan dukungan bagi Haris Azhar dan Fatia. (*)

Bagikan :

Jurnalis SUPI

Pangga Rahmad, Pimpinan Redaksi Suarapinggiran

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *