Konawe Krisis Petani Muda, STN dan SMK SPP Wawotobi Sepakat Bermitra

Konawe Krisis Petani Muda, STN dan SMK SPP Wawotobi Sepakat Bermitra

Kondisi petani muda yang berada di Konawe saat ini sedang berada pada fase kritis regenerasi. Padahal, untuk mempertahankan latar belakang sebagai Daerah Lumbung Pangan, pertanian seharusnya menjadi sektor yang menyerap minat pemuda untuk bekerja terbanyak dibanding status pekerjaan pada umumnya lainnya.

Berdasarkan data BPS Kabupaten Konawe 2020, persentase penduduk usia 15 tahun keatas yang bekerja menurut status pekerjaan umum, pekerja bebas di sektor pertanian adalah yang terendah dibanding status pekerjaan lain. Dengan persentase pekerja laki-laki 2,54 persen dan perempuan 1,94 persen maka total pekerja bebas sektor pertanian ini hanya sebanyak 2,34 persen. Selebihnya adalah Buruh, pegawai, karyawan dan mereka yang berstatus pekerja keluarga/tidak dibayar.

Adanya pandangan bahwa usaha di bidang pertanian ini kurang menguntungkan dari segi perekonomian menjadi penyebab Generasi muda lebih memilih bekerja pada bidang industri non pertanian serta perkantoran.

“Dengan demikian berkurangnya minat menjadi tenaga kerja petani di Konawe menjadi mutlak. Pemuda kurang tertarik dengan dunia pertanian. Padahal, jika tenaga kerja petani semakin berkurang itu akan berdampak terhadap jumlah petani dan produktivitas pertanian hingga bermuara pada penurunan ketahanan pangan kita di daerah” ujar Jumran, Ketua Serikat Tani Nelayan (STN) Konawe.

Karenanya, hari ini (20/07/2022) Pihaknya Bersama SMK SPP Wawotobi menyepakati kemitraan Pelatihan Petani Milenial yang sebelumnya telah diprogramkan Kementan Pertanian melalui Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Pertanian Pertanian (BPPSDMP).

Diketahui saat ini, Pihak kementerian sedang gencar memfasilitasi dan menarik minat para pemuda untuk terjun berusaha di bidang pertanian, dengan mencanangkan program cetak 2,5 juta petani milenial.

Untuk mendorong minat pemuda di sektor pertanian, SMK SPP Wawotobi sendiri telah banyak melakukan beberapa program aksi berupa penyuluhan pendidikan vokasi dan pelatihan mendukung pertumbuhan usaha petani milenial, serta penyuluhan, pendidikan vokasi dan pelatihan mendukung program utama Kementrian Pertanian.

“Pemuda tidak mau terjun ke sektor pertanian karena pendapatan yang lebih rendah. Memang kalau kita tidak mengusahakan pertanian secara serius maka pendapatannya akan lebih rendah. Tapi atas pendampingan kami terbukti beberapa siswa dan mitra kami telah sukses berwirausaha dan mendapatkan hasil yang memuaskan” Ujar Ikhwal, Kepala Sekolah SMK SPP Wawotobi kepada media ini.

Untuk itu, Selain program petani milenial, pihaknya akan menjalankan program penumbuhan wirausahawan muda pertanian (PWMP). Bahkan kedepan dijelaskannya, Kemitraan dgn STN Konawe ini akan mendirikan Supermarket Mini khusus penjualan hasil pertanian Milenial.

Lebih jauh, Ikhwal menerangkan bahwa Menteri Pertanian sejak tahun 2020 memiliki target penumbuhan pengusaha pertanian milenial yaitu sebanyak 500.000 setiap tahun sehingga totalnya 2,5 juta petani milenial pada tahun 2024. Selain program tadi, Kementrian Pertanian juga memiliki Program Duta Petani Milenial dan Duta Petani Andalan dan penerapan digitalisasi pertanian. (*)

Bagikan :

Jurnalis SUPI

Pangga Rahmad, Pimpinan Redaksi Suarapinggiran

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.