Ketika Hoax Menyusupi yang Muda

Ketika Hoax Menyusupi yang Muda

PERAN OSIS DALAM MENANGKAL HOAX DI MEDSOS
Oleh: Andi Muh. Ansar (Siswa MAN 1 Konawe)

Hoax atau fake news bukan sesuatu yang baru, dan sudah banyak beredar sejak Johannes Gutenberg menciptakan mesin cetak pada tahun 1439. Sebelum zaman internet, hoax bahkan lebih berbahaya dari sekarang karena sulit untuk diverifikasi. trending dalam lima tahun belakangan ini di media sosial Indonesia. Hoax atau berita bohong adalah informasi yang sesungguhnya tidak benar, tetapi dibuat seolah-olah benar adanya. Hal ini tidak sama dengan rumor, ilmu semu, maupun April Mop. Menurut KBBI, hoax mengandung makna berita bohong, berita tidak bersumber.

Menurut Silverman, hoax merupakan sebagai rangkaian informasi yang memang sengaja disesatkan, namun “dijual” sebagai kebenaran. Menurut Werme, mendefiniskan fake news sebagai berita palsu yang mengandung informasi yang sengaja menyesatkan orang dan memiliki agenda politik tertentu. Hoax bukan sekedar misleading alias menyesatkan, informasi dalam fake news juga tidak memiliki landasan faktual, namun disajikan seolah-olah sebagai serangkaian fakta. Penyebaran hoax paling besar yaitu melalui media sosial.

Media sosial adalah media online yang dimanfaatkan sebagai sarana pergaulan sosial secara online di internet. Di media sosial, para penggunanya dapat saling berkomunikasi, berinteraksi, berbagi, networking, dan lain sebagainya. Media sosial menggunakan teknologi berbasis website atau aplikasi yang dapat mengubah suatu komunikasi ke dalam bentuk dialog interaktif. Beberapa contoh media sosial yang banyak digunakan pada zaman kini yaitu youtube, facebook, instagram, whatsaap, dan lainnya.

Penggunaan media sosial tidak mengenal apapun baik dia orang tua, remaja, bahkan anak dibawah umur baik dia seorang pekerja, mahasiswa bahkan pelajar banyak yang menggunakan media sosial. Tetapi, penggunaan media sosial mempunyai berbagai dampak baik itu dampak positif maupun dampak negatif salah satu dampak negatifnya yaitu penyebaran hoax atau berita bohong.

Penyumbang pembaca bahkan pembuat berita hoax terbesar adalah pelajar. Menurut Head of Social Media Management Center dari Kantor Staf Presiden RI, Alois Wisnuhardana, remaja mudah percaya pada hoax karena anak muda memang cenderung emosional. Setiap informasi yang masuk, apalagi yang sensasional, akan langsung disebarkan. Serta fakta membuktikan bahwa, di akhir tahun 2016 di Indonesia ada 800 ribu situs yang terindikasi menyebarkan hoax dan ujaran kebencian. Berita hoax atau bohong di jagat maya seringkali berdampak langsung pada kehidupan nyata. Misalnya saja tahun kemarin MAN 1 Konawe mendapatkan ancaman dari sekolah lain karena ada seseorang siswa dari madrasah lain yang menyebarkan hoax yaitu menuduh MAN 1 Konawe yang membuat suatu status yang menjelek-jelekkan sekolah lain sehingga para siswa-siswi MAN 1 Konawe resah menyikapinya.

Para pelajar sekarang hanya langsung menerima berita yang ia tidak ketahui asal usulnya yang membuat mereka cepat percaya terhadap hoax yang memancing emosinya padahal berita tersebut belum diketahui secara pasti dan pelajar sekarang mereka bekerja (menyebar hoax) yang tidak ada artinya. Mereka hanya ingin menambah rating tulisannya dengan cara yang tidak dibenarkan oleh pemerintah.

Apabila hoax tersebut menyangkut tentang sekolah maka OSIS wajib menangkal penyebarannya agar berita yang disampaikan sesuai dengan fakta agar tidak terjadi sesuatu yang tidak diinginkan dan pengurus OSIS juga wajib meluruskan berita yang telah beredar tersebut. Serta apabila hoax tersebut menyangkut mashalah umum maka orang-orang yang seharusnya sadar untuk meluruskannya.
Dampak positif dari meluruskan berita hoax, yakni:
• Berita yang di sebarkan sesuai dengan fakta
• Tidak terjadinya kesalah pahaman
• Jiwa sosial tidak berkurang
• Negara akan aman
• Pelaku penyebaran hoax akan diberi hukuman agar tidak ada lagi penyebaran hoax yang lainnya.

Kita sebagai pegiat media sosial seharusnya tetap selalu mengontrol berita-berita yang tidak sesuai dengan fakta dan apabila menemukan berita hoax yang dapat menyebabkan kerugian maka kita seharusnya melapor kepada pihak yang berwajib agar pelaku penyebaran cepat mendapatkan penindakan. Dengan demikian kita turut menciptakan bangsa Indonesia yang tetap aman dan dapat menjadi makmur.(*)

.

Penulis : Andi Muh. Ansar
(Siswa MAN 1 KONAWE)
Bagikan :

Jurnalis SUPI

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *