Ketika Emas Hijau Merenggus Adat

Ketika Emas Hijau Merenggus Adat

Suarapinggiran.online_ Kawasan rawa itu mulai runtuh. Tergantikan dengan produk baru yang sering disebut sebagai emas hijau. Ketika Metroxylon sagu Rottb atau pohon sagu mulai menipis, abrasi besar-besaran dan pendangkalan aliran air perlahan nampak, mengikis habitat, mencemari mata rantai ekosistem, pula perlahan ikut menggerus adat.

Tanaman sawit telah ikut jadi biang penyumbang dalam deforestasi kawasan hutan dan pengurangan drastis pohon sagu. Penopang kawasan air luas itu mulai terkikis saat berhektar-hektar hutan rawa, ikut beralih-fungsi menjadi lahan sawit. Persoalannya karena sawit bukan jenis tanaman yang nampaknya ramah pada kondisi tanah. Ia jenis tanaman penghisap yang kuat, menghabisi mineral dan hanya menyisakan lahan tandus setelahnya.

Berbeda dari sawit yang cenderung tak memiliki timbal-balik pada kondisi tanah, pohon sagu justru telah menjadi teman setia lahan berawa sejak dahulu. Tanaman itu telah menjadi penopang ekosistem yang bersahabat. Ia menampung air, menahan erosi dan abrasi tebing sungai, melindungi ragam habitat yang berdayaguna bagi manusia, dan dalam ragam kebudayaan, tanaman itu pula telah dikenali sebagai alat pemersatu.

Beberapa kawasan di Sulawesi Tengah (Sulteng) bahkan memercayai bahwa sagu adalah jenis pohon yang lahir dari jelmaan seorang perempuan. Di Maluku dan Papua, pohon sagu menjadi tanaman identik yang tidak saja menjadi makanan pokok, namun dimanfaatkan untuk ragam keperluan, termasuk dalam aktifitas-aktifitas ruhaniah. Sementara di Sulawesi Tenggara (Sultra) sendiri, pohon sagu dimanfaatkan untuk pembuatan peralatan-peralatan adat, bahan bangunan rumah, dan dipercaya ampuh untuk pengobatan penyakit.

Lebih jauh dari itu, sejak dahulu pohon sagu telah dipandang memiliki nilai filosofi yang kuat. “Sebagai tumbuhan berumpun, sagu menjadi kiasan tentang pandangan hidup yang pantang mundur dan berpandangan luas. Sagu juga identik dengan tidak pernah menyusahkan orang, ditanam tumbuh sendiri, dan juga memiliki ekonomi kuat,” pungkas Safruddin Pasuay, seorang pemerhati budaya dan lingkungan Sultra yang juga sebagai Akademisi Universitas Lakidende saat ditemui SUPI beberapa waktu lalu (16/4).

Menurut mantan Kepala Bandan Lingkungan Hidup Kabupaten Konawe ini, peran-peran pohon sagu dalam menopang ekosistem, telah dikenali dalam banyak kebudayaan di banyak tempat. Sebagai tanaman yang hidup di rawa, pohon sagu berperan besar dalam perlindungan ekosistem ikan yang amat urgen. Tak salah bila ada yang mengatakan bahwa sagu adalah tanaman multiguna dari akar hingga daun.

Pasalnya, akar pohon sagu telah dimanfaatkan sebagai obat penyakit malaria, batang sagu digunakan oleh masyarakat di beberapa tempat sebagai bahan bangunan, pelepahnya digunakan untuk pembuatan peralatan adat, dan air sagu juga telah digunakan untuk mengobati orang yang mengalami gejala keracunan.

Sebagai pengaman lingkungan, pohon sagu juga berperan penting dalam perlindungan emisi berlebih gas CO2 di udara. Tanaman sagu ikut mengabsorbsi sejumlah karbon yang dihasilkan dari lahan rawa dan gambut, dan membuat lingkungan sekitarnya tetap terpelihara dari paparan karbon berlebih yang kurang ramah pada mahkluk hidup berjenis hewan dan manusia.

Pengurangan drastis pada pohon sagu jelas berimbas jauh bagi kondisi lingkungan. Penggundulan hutan yang melampaui batas wajar untuk berhektar-hektar sawit, menjadikan akar-akar penyimpan suplai air tidak lagi kuat menopang nasib kekeringan pada tanah. Ekosistem juga perlahan tergerus. “Ikan gabus yang biasanya hidup di sungai berawa, mulai hilang gara-gara sawit. Sagu putih di Ambekaeri dulu sagunya putih karena jernih, sekarang juga sudah tercemar,” tandasnya.

Safruddin menilai, selayaknya dilakukan sosialisasi kembali terhadap sifat urgen sagu sebagai tanaman penopang ekosistem dan perekat peristiwa sosial. Boleh dikata, sejauh ini belum banyak pihak yang mengangkat isu penggerusan sagu demi berhektar-hektar sawit, sementara laju alih-fungsi lahan hutan menjadi areal perkebunan, semakin meningkat dari waktu ke waktu.

Meski pihaknya kala itu telah menyampaikan inisiatif perbaikan kepada DPRD Konawe dan instansi terkait terhadap pengikisan sejumlah Daerah Aliran Sungai (DAS) melalui proyek penanaman sukun, namun ide cemerlang itu justru ditangkis dengan cemooh yang menyebutkan dirinya lebih cocok jadi kepala dinas sukun saja. Sebuah gurauan konyol yang merendahkan nilai perjuangan penyelamatan lingkungan untuk kemanusiaan.

Selain itu, tampaknya sawit hanya salah satu dari sekian variabel terjadinya penggerusan mutu lingkungan. Peningkatan populasi manusia dan sentra-sentra produksinya selain perkebunan, menjadi penyumbang terbesar bagi perubahan ekosistem lingkungan secara drastis.

“Kita tidak konsisiten dengan tata ruang. Peningkatan jumlah penduduk itu perlu penataan. Tata ruang mesti diseminarkan, diundang semua stakeholder. Saya tidak pernah diundang semenjak menjabat. Acuan kita adalah tata ruang. Mestinya investor sawit tidak boleh langsung memberi izin,” tegasnya.

Kondisi lingkungan yang makin mencemaskan, hutan-hutan yang mengalami penggundulan, tercemarnya sungai-sungai, atau erosi yang berlebihan, setidaknya dapat membuka mata ragam pihak untuk kembali melihat lebih arif hasrat-hasrat ekonomi kita. Pepatah tradisional tentang dimensi sosial budaya sagu bisa menjadi pelajaran berharga.

Sejak lama arus deforestasi itu memang telah diramalkan, meski tak secepat yang dapat dibayangkan oleh para tetua, tetapi memberi pencerahan berharga pada moralitas manusia masa silam dalam melihat sekitar. “ada pepatah tradisional kita, Morini mbu mbundi, monapa mbu ndawaro, tapi sekarang apa, anak cucu kita bertanya mana pohon sagunya, kita mau jawab apa, pohon sagunya sudah habis ditebang” cetus Safruddin kesal.

Hal senada juga diungkapkan Nasrun, Direktur Yayasan Media Kalosara Indonesia kepada SUPI pekan lalu. Menurutnya, Fungsi Pengawasan dari DPRD cenderung tidak berjalan dalam melihat kondisi ini. Tanaman Sagu yang menjadi bagian dari kebudayaan lokal dan kearifan leluhur yang mestinya dilestarikan justru dibiarkan hilang begitu saja.

“saya menganggap DPRD Konawe itu sedang tidur, ada dugaan mereka melakukan pembiaran terkait hal ini, padahal kita tahu sendiri, mereka itu juga makan sinonggi, dari kecil makan sinonggi, sampai sekarang juga makan sinonggi, kenapa dibiarkan begini, disana di wawotobi itu sagu sudah mulai habis gara-gara sawit” kesal Nasrun.(Jm)

Bagikan :

Jurnalis SUPI

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *