Kematian dan Si Penggali Kubur

Kematian dan Si Penggali Kubur

Hari-hari ini kematian jadi sarapan pagi dan makan malam. Mereka direbus tangan-tangan besar yang jengah membaca sains dan mengerti puisi.

Di tanah duka dan kebun kesunyian, kita menyaksikan seragam putih yang sabar dan penggali kubur kehilangan jejak-jejak melati yang kerap ia pungut dari doa orang-orang berkabung.

Tak ada apa pun hari ini, kecuali harapan yang enggan dan kurva kesedihan yang disampaikan negara dari mimbar kehormatan-
– yakin ia tak yakin kapan berakhir.

Kematian adalah teman kecil yang malang bagi usia yang senjakala. Tapi dunia berdalih kuat-kuat sebab tak ada kematian dari ketiadaan.

Penggali kubur itu demikian karib pada tanah dan arwah, dan nama-nama yang dihadiahi nisan oleh dunia yang piatu dari ratapan keluarga.

Sungguh, bau tanah itu demikian menakutkan daripada arwah malam ketujuh, tapi ia terlalu biasa menerima kematian sebagai harta kehidupannya.

Si penggali kubur tahu benar: kematian adalah musim panen dari ladang yang tak pernah ia tanami. Betapa membuat perutnya buncit seperti tikus kekenyangan janjinya sendiri.

Lagi pula keringatnya melampan tanah demi rimbun peristirahatan, telah menyerupai sumur mata air untuk memandikan jenazahnya sendiri.

Tapi ia sadar juga: kematian adalah teks pidato yang tak pernah dituliskan. Maka ia menggali takdir demi dunia mini miliknya sendiri.

Kendari, 2020

Karya : Pangga Rahmad

Pangga Rahmad
Bagikan :

Jurnalis SUPI

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *