JAKER Konawe Deklarasi, Pendiri : Lawan “Industri Budaya Kapitalis”

JAKER Konawe Deklarasi, Pendiri : Lawan “Industri Budaya Kapitalis”

Bertempat di Mbakoy Coffee, Jumat malam kemarin (21/08/2020) para penggiat seni dan sastra Konawe mendeklarasikan diri. Mereka yang tergabung dalam Jaringan Kerja Kebudayaan Rakyat atau biasa disingkat Jaker ini merupakan kumpulan pekerja seni budaya yang bergerak di bidang daya cipta dan kreativitas. Sebagaimana Jaker Nasional, Minat utama jaringan ini juga adalah sastra, seni, filsafat, agama, dan budaya baik dalam bentuk pemikiran maupun karya.

Bermodal kearifan lokal, “Industri Budaya Kapitalis” yang kemudian menyusupi dan merusak setiap sendi-sendi kehidupan masyarakat saat ini diharapkan mampu menjadi alternatif gerakan pemuda dalam membangun budaya tandingan yang relevan. Pentingnya Jaker Konawe ini berdiri sama halnya dengan pentingnya sebuah pondasi rumah. Demikian penjelasan Jumran, Pendiri Jaker Konawe saat memberikan sambutan dalam launching tersebut di depan tamu undangan dan hadirin.

“Tanpa basic struktur yg kuat dan berkarakter, masyarakat kita, kebudayaan kita, kearifan lokal kita juga akan mudah tumbang oleh badai perubahan global dan kapitalisme. Karenanya, alternatif gerakan pemuda adalah dengan menarik benang merah dari kebudayaan dan kearifan lokal kita sendiri untuk kemudian dijadikan budaya tandingan. Saatnya kita melawan industri budaya kapitalisme” tegasnya.

Menurutnya, Kebudayaan bersama nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya mesti dipahami dan disikapi tidak hanya secara emosional, namun lebih pada soal bagaimana menjalankan peran intelektual dengan menarik benang merah revitalisasi untuk menghadapi tantangan perubahan zaman secara relevan, terlebih dalam rangka melawan industri budaya yang dipelopori Imperislisme modern melalui kapitalismenya.

“Kian terkikisnya bahkan terancam hilangnya nilai-nilai kearifan lokal kita tidak bisa dipungkiri merupakan akibat dari dominasi budaya barat kapitalis dalam proses akulturasi budaya yang merupakan agenda besar imperialisme gaya baru lewat kapitalisme mutakhirnya” tukasnya.

Senada dengan hal itu, Ajemain Suruambo dalam sambutannya selaku Ketua Komunitas Masyarakat Adat Wonua Ndinudu dalam acara tersebut juga memaparkan faktor-faktor eksternal dari kebudayaan itu yang sangat mempengaruhi perubahan perilaku dan cara berfikir generasi saat ini.

“Budaya barat telah mengikis perlahan kebudayaan kita, cara berpikir kita dan perilaku kita terkadang tidak lagi mencerminkan kearifan lokal kita” terangnya.

Apresiasi terhadap upaya membangun budaya tandingan atas dominasi budaya barat kapitalis yang digagas Jaker Konawe ini juga datang dari Komunitas Masyarakat Adat Wonua Ndiniso Parauna. Melalui ketuanya, Abdul Sahir menyampaikan pentingnya generasi penerus khususnya yang ada di Kabupaten Konawe untuk terus melestarikan kebudayaan daerah dengan lebih kreatif.

“Kami selaku Komunitas Masyarakat Adat yang ada di Konawe ini sangat mengapresiasi kegiatan launching ini, jika inisiatif seperti yang dilaksanakan oleh Jaker ini tidak ada lagi maka identitas kebudayaan dan kearifan lokal kita akan segera hilang” ujarnya saat memberikan sambutan di tempat yang sama.

Deklarasi yang dilaksanakan bersama Pengurus OSIS MAN 1 Konawe ini juga dimeriahkan dengan pentas Sastra Tradisional Tolaki berupa pesan moral Moanggo serta sajak dan pantun yang tersirat dalam sastra Kinoho Tolaki. Tidak kalah bakat seni dan sastra, Pelajar MAN 1 Konawe pun juga menampilkan beberapa musikalisasi puisi dan lagu daerah Tolaki.

Radikalisasi Puisi yang ditampilkan Jaker Konawe dan beberapa sastrawan muda Aktivis Mahasiswa UHO juga menambah semarak sekaligus keharuan. Pasalnya, realita degradasi kebudayaan dan tragedi September Berdarah di Sulawesi Tenggara yang menelan korban jiwa beberapa waktu lalu itu disuguhkan dengan sangat menyayat perasaan para pendengar. (*)

Bagikan :

Jurnalis SUPI

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *