Fakta Miris Persalinan Seorang Ibu di Pelosok Desa Konsel

Fakta Miris Persalinan Seorang Ibu di Pelosok Desa Konsel

Konawe Selatan, SUPI.

Covid 19 tidak hanya berdampak terhadap kondisi ekonomi kelas bawah menjadi terpuruk, tetapi juga berdampak terhadap kesejahteraan dan keselamatan kaum perempuan di pelosok pedesaan. Simaklah, akibat dari kondisi jalan penghubung antar kampung yang rusak parah, Seorang ibu (istri Ust. Jumani Al Umar) terpaksa dilarikan ke puskesmas yang jaraknya cukup jauh berlokasi di Kec. Kolono Kab. Konawe Selatan Prov Sulawesi Tenggara untuk melakukan persalinan.

Akibat dari kurang memadainya fasilitas kesehatan dan kurangnya tenaga medis di lokasi pemukiman transmigrasi Yang baru genap 5 tahun tersebut, upaya pemerintah untuk memperbaiki akses jalan rupanya hanya isapan jempol belaka. Janji 5 tahun silam yang belum terealisasi yang berdampak terhadap kondisi masyarakat menjadi sangat termarjinalkan bahkan luput dari perhatian pemerintah setempat.

Kondisi cuaca yang saat ini sangat sulit untuk diperkirakan menjadikan lengkap sekali penderitaan warga yang dirasakan pada kondisi seperti sekarang ini. Kemurahan hati sang bupati yang sekian lama di nanti-nanti tapi tak kunjung ditepati yang akhirnya membuat rakyat sakit hati. Didi Hardiana (27) seorang pemuda desa menuturkan hal tersebut dengan menegaskan bahwa kondisi seperti yang dirasakan oleh warga saat ini adalah pembiaran atau pelanggaran Hak Azasi Manusia terhadap akses kesehatan yang memadai untuk masyarakat tidak pernah di hiraukan apalagi jalan penghubung antar desa yang rusak parah.

“Kesehatan adalah keadaaan sejahtera dari badan, jiwa dan sosial yang
memungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosial dan ekonomi (Pasal 1 poin 1
UU No 23/1992 tentang Kesehatan), karena itu kesehatan merupakan dasar dari
diakuinya derajat kemanusiaan” terangnya saat diwawancarai SUPI (30/07/2021) belum lama ini.

Kondisi Jalan Menuju UPT. Desa Roda Kec. Kolono Kab. Konawe Selatan dimusim penghujan

Tanpa kesehatan, lanjutnya, seseorang menjadi tidak sederajat secara kondisional. Tanpa kesehatan, seseorang tidak akan mampu memperoleh hak-hak lainnya. Sehingga kesehatan menjadi salah satu ukuran selain tingkat pendidikan dan ekonomi, yang menentukan mutu dari sumber daya manusia.

Hak atas kesehatan bukanlah berarti hak agar setiap orang untuk menjadi sehat,
atau pemerintah harus menyediakan sarana pelayanan kesehatan yang mahal di luar
kesanggupan pemerintah, tetapi lebih menuntut agar pemerintah dan pejabat publik
dapat membuat berbagai kebijakan dan rencana kerja yang mengarah kepada tersedia dan
terjangkaunya sarana pelayanan kesehatan untuk semua dalam kemungkinan waktu yang
secepatnya.

Sehingga hak atas kesehatan mencakup wilayah yang luas dari faktor ekonomi dan sosial
yang berpengaruh pada penciptaan kondisi dimana masyarakat dapat mencapai
kehidupan yang sehat, juga mencakup faktor-faktor penentu kesehatan seperti makanan dan nutrisi, tempat tinggal, akses terhadap air minum yang sehat dan sanitasi yang
memadai, kondisi kerja yang sehat dan aman serta lingkungan yang sehat.

“Antara Hak Asasi Manusia dan Kesehatan terdapat hubungan yang saling
mempengaruhi” ujarnya lagi.

Selain itu menurut Didi, Hak Atas Kesehatan juga harus dipahami sebagai hak atas pemenuhan berbagai fasilitas, pelayanan dan
kondisi-kondisi yang penting bagi terealisasinya standar kesehatan yang memadai dan terjangkau. Desa UPT. Roda Kec. Kolono Konawe selatan jargon Desa Maju Konsel Hebat hanya menjadi angan-angan yang tak pernah ditunaikan.(*)

Bagikan :

Jurnalis SUPI

Pangga Rahmad, Pimpinan Redaksi Suarapinggiran

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *