Pesan Bijak, Tak Lagi Dipijak

Pesan Bijak, Tak Lagi Dipijak

“Inae Konasara Ie pinesara, inae liasara ie pinekasara” demikian filosofi adat Tolaki yang mampu bertahan dan telah hidup sejak ribuan tahun lalu.

Hingga kini, pesan mulia dan bijaksana dari leluhur itu masih mempunyai pengaruh besar dalam kehidupan bermasyarakat suku bangsa asli jazirah tenggara pulau Sulawesi ini.

Sebagai filosofi hidup, slogan tersebut selalu menjadi dasar pijakan dalam segala bentuk aktivitas kebudayaan Tolaki secara kesulurahan.

Seiring perkembangan zaman dan semakin masifnya ekspansi kebudayaan barat dalam kapitalisme modern, kebudayaan lokal Tolaki seperti kebudayaan suku bangsa lain kian terancam hingga berada di ambang kepunahan.

Budaya lokal, akhirnya harus mengakui posisinya sebagai minoritas, saat akulturasi dalam modernitas lebih dikuasai oleh peradaban barat yang memiliki kekuatan membajak untuk menentukan pilihan-pilihan hidup dan etika dari setiap individu.

Tanpa harus meninjau lebih jauh, pemakaian bahasa lokal Tolaki dalam keseharian saja telah jarang terdengar. Terlebih lagi jika meninjau pilihan dan pemakaian tutur kata dikalangan generasi muda. Hampir dipastikan, bahasa lokal daerah mereka tidak diketahui cara dan ungkapan-ungkapannya. Terlebih lagi maknanya.

Walhasil, dalam tataran wacana, isu kearifan lokal yang penuh dengan nilai dan makna itu, akhirnya terpinggirkan oleh isu kekinian yang syarat dengan intrik dan hedonisme.

Hal ini yang menurut salah satu Tokoh Adat Tolaki, Altin Timbu menjadi kenyataan yang cukup miris. Saat pengharagaan terhadap bahasa nenek moyang saja tidak dilakukan dalam tataran pilihan dan penuturan kata-kata. Akibatnya, makna yang tersirat, pula tidak mampu menetaskan dan mempengaruhi etika keseharian mereka.

Pola dan nilai yang dikandung dalam setiap kata dan kalimat bahasa tolaki itu, tidak diketahui dan dimaknai sebagai sebuah pesan kebijakan dalam beretika dengan lingkungan sekitar.

“tidak ada ruginya kita mengucapkan iye inggomiu kepada orang ketika berbicara, untuk anak-anak sekarang hampir tidak ada lagi yang berkata begitu, yang ada itu satu dua hari tinggal di kendari pulang sudah tidak tau lagi bahasa Tolaki” Ujar Altin Timbu kepada Jurnalis SUPI (16/04) di rumah kediamannya.

Padahal, lanjutnya, kearifan lokal budaya tolaki telah sejak dahulu menentukan aturan yang memberikan petunjuk dan batasan yang prinsipil dalam menjalankan kehidupan bermasyarakat dengan lebih santun, damai dan tentram.

Dimulai dari etika berbahasa, cara memandang, berjalan, mengelola lingkungan, bertani, beternak, memahami hingga etika psikologis dalam hal menyimpan dan menyampaikan perasaan agar tetap tenang dan bijaksana dengan tetap menjaga agar tidak membuat ketersinggungan dan merugikan pihak lain.

“inae konasara ie penasara, inae lia sara ie pinekasara, itu dalam arti yang luas, tidak hanya menyangkut adat perkawinan saja, tetapi juga menyangkut seluruh hubugan kita dengan lingkungan sekitar, seperti dalam sara mondau, yang mengatur larangan penanaman dan penebangan pohon, dalam adat Tolaki itu sudah diatur” pungkasnya lagi. (*jm)

Bagikan :

Jurnalis SUPI

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *