“Tumpukan kertas”

“Tumpukan kertas”

Namaku berada di antara tumpukan kertas
Di sebuah meja para penguasa yang buta
Bagiku dia seperti itu
Malasnya bergerak membuatnya tidak bisa menganggkat kaki

Dia hanya bisa menganggkat jari
Membuat nama di atas nama
Menerbitkan surat di atas surat
Namaku dulu di urutan paling atas
Sekarang menghilang dan berada di tumpukan kertas

Atau dia, mereka yang membuatnya sebagai sampah
Tumpukan surat di atas surat, nama di atas nama telah menjadikanku tiada

Seperti tiadanya tanah tempatku bekerja
Mengais biji demi biji tanaman
Menjadikannya pangan untuk banyak orang

Siapa aku yang hanya bisa mengeja kata
Tidak bisa mengatakan itu milikku
Tidak bisa mengatakan ini kehidupanku
Ketika namaku tidak tertera lagi sebagai pemilik
Milik itu hanya untuk para pembuat uang dan kuasa

Begitulah cara mereka bekerja
Meniadakan semak kecil untuk menanam pohon manis
Menghadirkan kerumunan semut gula
Menghancurkan koloni semut yang papa. (*)

Penulis : Kartika (Pemerhati Sastra dan Agraria)

Bagikan :

Jurnalis SUPI

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *