Potret Nelayan Miskin di Pesisir Batu Gong

Potret Nelayan Miskin di Pesisir Batu Gong

Sejak krisis mulai merambah berbagai wilayah pertengahan tahun 1997, hingga di era reformasi tahun-tahun terakhir ini, nelayan tradisonal boleh dikata adalah kelompok masyarakat pesisir yang menderita. Mereka adalah korban pertama dari perubahan situasi sosial-ekonomi yang terkesan tiba-tiba dan berkepanjangan. Seperti di beberapa wilayah pesisir yang ada di Provinsi Sulawesi Tenggara, nelayan di Kecamatan Lalonggasumeeto Kabupaten Konawe juga mengalami hal serupa.

Tepatnya di bibir pantai Batu Gong, peluh dan perjuangan nelayan di salah satu objek wisata terkenal di daerah itu dikisahkan. Modernisasi perikanan atau yang kerap disebut revolusi biru itu telah menetaskan perjuangan yang tidak ringan dari kelas nelayan tradisional di wilayah itu. Berkurangnya hasil tangkapan nelayan dipicu semakin derasnya arus pengurasan sumber daya laut yang keluar dari situasi itu.

“Kalau dekat-dekat sini sudah kurang ikannya, ada tapi kecil-kecil tidak seperti dulu lagi. Jadi mau tidak mau harus cari di tempat yang jauh, ini saya pasang pukat di pinggir pantai hanya sedikit ikan kecil saja saya dapat” tukas Bodang (58), seorang nelayan yang ditemui suarapinggiran.online beberapa waktu lalu (25/10).

Seperti dalam pengakuannya, nelayan di wilayah ini hampir seluruhnya mengalokasikan hasil tangkapan mereka hanya untuk memenuhi kebutuhan pangan keluarga sehari-hari dan bukan diinvestasikan kembali untuk pengembangan skala usaha tangkap mereka. Pasalnya, jumlah hasil tangkapan tidak lagi memenuhi syarat itu lantaran jarak yang harus di tempuh semakin jauh jika mesti mendapatkan tangkapan yang layak.

Ketidakpastian pendapatan keluarga nelayan akhirnya menjadi resiko yang tak terhindarkan. Tidak jarang, profesi lain juga dilakoni meski serabutan demi menutupi kebutuhan makan anggota keluarga mereka.

Memanfaatkan peluang yang tersisa, Bodang dan beberapa nelayan lain juga mengaku telah membuka lahan kecil mereka untuk ditanami tanaman jangka pendek. Melakoni dua aktifitas sehari-hari itu dipastikan menjadi keputusan terakhir agar tidak semakin terpukuruk dalam kemiskinan.

“penghasilan saya pas-pasan, jadi saya itu bertani juga, karena kalau hanya jadi nelayan apalagi situasi sekarang tidak akan bisa cukup untuk keluarga. Rata-rata warga yang nelayan disini begitu” ujarnya lagi.

Dibanding beberapa tahun sebelumnya, lelaki yang telah memilki cucu ini menjelaskan tingkat penghasilan yang berbeda jauh dengan saat ini. Dahulu, dengan hanya menggunakan sampan di wilayah pesisir saja telah mampu menghasilkan tangkapan dengan jumlah yang relatif banyak dan dengam jenis ikan tangkapan yang beragam pula. (*)

Bagikan :

Jurnalis SUPI

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *